Harga CPO Rontok, TBS Petani Ikut Anjlok

JAKARTA. Anjloknya harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) berimbas ke harga beli tandan buah segar (TBS) sawit milik petani. Saat ini rata-rata harga TBS sawit di petani di kisaran Rp 600-Rp 900 per kg, jauh di bawah harga ideal sekitar Rp 1.200 per kg. Perang dagang memang telah mengerogoti harga CPO. Hal ini seiring semakin melimpahnya pasokan minyak nabati di dunia, efek langkah China mematok tarif tinggi atas impor produk kedelai dan turunannya dari AS.

kebun sawit

Mengutip data Bloomberg pada Jumat (13/7), harga CPO kontrak pengiriman September 2018 di Malaysian Derivative Exchange tercatat di posisi RM 2.162 per metrik ton. Harga itu melorot 1,1% jika dibandingkan harga pada hari sebelumnya. Ini juga merupakan level terendah harga CPO sejak 2016. Dalam sepekan, harga CPO telah mencatat penurunan sebesar 4,6%. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono bilang, akibat perang dagang ekspor CPO dan turunnya turun 3% dari April menjadi 2,33 juta ton.

“Ke depan kami perkirakan ekspor masih turun,” ucapnya Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Riau Gulat Manurung mengatakan, rata-rata harga TBS di petani saat ini jauh di bawah harga idealnya. “Penurunan harga TBS ini sudah sangat mencekik petani, khususnya bagi petani non mitra,” ujarnya kepada KONTAN, Minggu (15/7). Akibat penurunan harga TBS sawit, petani kelapa sawit harus menekan biaya produksi, dari saat ini sekitar Rp 800 per kg TBS. Penurunan biaya produksi menjadi wajib untuk bertahan.

Seperti dengan menghemat pupuk, menekan penggunaan herbisida, mengurangi pengendalian gulma, dan menghentikan kegiatan berpotensi meningkatkan biaya produksi. Apalagi diperkirakan penurunan harga TBS sawit masih akan terus terjadi sampai Agustus mendatang. Hal itu dikarenakan stok CPO di masing-masing pabrik yang masih penuh.

Akibatnya pabrik kelapa sawit (PKS) mengurangi pembelian TBS dari petani nonmitra dan mengutamakan buah dari kebun sendiri dan buah dari mitra PKS. Petani semakin tertekan karena patokan harga TBS yang dikeluarkan Dinas Perkebunan Provinsi tidak dijalankan. “Ini karena tidak ada hukuman atau tindakan apabila PKS tidak mengikuti harga kesepakatan tersebut, khususnya harga di tingkat Petani Non Mitra,” ujar Gulat.